rectoverso yang menemaniku
sesaat lalu yang terjadi masih seperti ini…
Hanya Isyarat
oleh: Dewi Lestari
“… Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.”
Ku coba semua, segala cara
Kau membelakangiku
Ku nikmati bayangmu
Itulah saja cara yang bisa
Untuk kumenghayatimu
Untuk mencintaimu
Sesaat dunia jadi tiada
Hanya diriku yang mengamatimu
Dan dirimu yang jauh di sana
Ku tak kan bisa lindungi hati
Jangan pernah kau tatapkan wajahmu
Bantulah aku semampumu
(Rasakanlah)
Isyarat yang sanggup kau rasa
Tanpa perlu kau sentuh
(Rasakanlah) Harapan, impian,
Yang hidup hanya untuk sekejap
(Rasakanlah) Langit, hujan,
Detak, hangat nafasku
(Rasakanlah)
Isyarat yang mampu kau tangkap
Tanpa perlu kuucap,
(Rasakanlah) Air, udara,
Bulan, bintang
Angin, malam,
Ruang, waktu, puisi
Itulah saja cara yang bisa
Untuk menghayatimu
Untuk mencintaimu
di masa-masa sulitku mungkin seperti ini…
Curhat Buat Sahabat
oleh: Dewi Lestari
“…Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.”
Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:
Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana
Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku disini…
Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : “Pandang aku, kau tak sendiri,
oh dewiku…”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan
Sahabatku, bukan maksud hati membebani,
Tetapi…
Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji…
Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku…”
Wahai tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi
a detox
-selasa pertama-
alarm ponselku memaksaku bangun hanya untuk solat. meriang masih terasa enggan beranjak dari tubuh lemasku. aku pun tak kuasa untuk bangun pagi meski sadar hari ini harus turun ke bawah karena ada janji dengan salah satu dosen paling baik yang pernah kutemui selama satu bulan disini.
orang itu biasa kupanggil bang leo, lengkapnya leonardo dicaprio (just kiddin’). tampannya beda tipislah dengan leonardo yang artis amrik itu, hanya tinggal dibayangkan bila si leonardo aslinya itu berusia lebih tua tiga puluh tahun dari sekarang. well, nama aslinya adalah leonard f.polhaupessy. jika aku tak ingat akan kebaikannya kepada kami kami ini-yang konon katanya dosen karbitan-mungkin aku benar-benar enggan menguatkan tubuhku untuk menempuh dua jam perjalanan dari jatinangor ke dago atas.
dan tiba-tiba aku sudah duduk dengan tidak tenangnya di bis damri, karena teman sekamarku tadi pagi melarangku mandi memakai air jatinangor secara normal-yang berarti mandi dengan menggebyur tubuh menggunakan air sedingin air kulkas-karena ia takut aku masih belum sembuh benar dari demamku kemarin. walhasil aku mandi menggunakan tisu basah, yang ditutup dengan acara mengusapkan banyak sekali baby cologne ke sekujur tubuhku, karena saking takutnya bang leonardo dicaprio akan terganggu dengan acara mandi tidak normalku.
perjalanan melawan sistem recall memoriku pun dimulai. pemanggil ingatanku mulai bekerja saat damri mulai berangkat di pertigaan dunkin jatos, dimana berapa hari yang lalu aku masih sempat tertawa riang saat menemaninya berkeliling jatos yang hanya akan habis dikelilingi dalam waktu kurang dari satu jam, lalu paginya masih sempat menikmati sarapan sepiring lontong kare hingga melepasnya berlari pergi mengejar damri. aku pun berusaha memejamkan mata-siapa tahu ampuh untuk mengusir datangnya panggilan ingatan itu.
aku lalu terbangun saat bis damriku melewati persimpangan masjid dekat musium geologi, dimana kami lalu turun untuk berencana menyempatkan pergi ke pasar baru terlebih dahulu. celakanya, perhitungan kami meleset, di dalam angkot kami menyadari kami tak punya waktu lagi ke pasar baru meski untuk sekedar membeli toples ibu kos yang kupecahkan minggu lalu. akhirnya kami banting setir, turun dan berganti angkot riung-dago. dan perjuanganku melawan recall memori semakin terasa berat disini. angkot itu ternyata melewati kantor pos, yang saat di hari minggu di bulan lalu aku diajaknya serta kesana, meski ternyata tutup waktu itu. angkot ini ternyata juga melewati persimpangan di bawah jembatan layang, tempat dimana ia pernah menunjukkanku bahwa saat malam minggu tiba akan banyak mahasiswa unpad maupun itb mendadak mengamen secara massal, dan nyatanya memang demikian saat bulan lalu kami masih sempat melintasi persimpangan itu di malam minggu.
angkotpun lalu bergerak ke arah dipati ukur, berbelok ke kiri bersamaan dengan arah dari penghabisan jembatan layang. yup, masih lekat di ingatanku, sore itu dingin mencekat, ia sepertinya salah mengambil arah saat ingin keluar dari kemacetan di persimpangan bawah jembatan layang itu. jadilah kami harus melintasi jembatan layang yang dingin dan panjang itu mulai dari arah pasteur. entah mengapa, sore itu ia membawa laju motornya begitu menderu, hingga aku yang diboncengnya hanya berani memejamkan mata dan komat-kamit membaca doa minta keselamatan-selain karena aku sungguh sungguh kedinginan terkena tiupan angin sore bandung yang begitu kencang. begitu jalur jembatan layang itu habis, barulah kecepatan motornya berkurang banyak. dan saat ia hendak berbelok kiri ke arah dipati ukur, barulah ia bertanya, “halo? ada orang di belakang? masih hidup? kok dari tadi nggak ada suaranya?” ijinkan aku berkomentar bahwa saat itu suaranya benar-benar terasa begitu merdu dan lembut, meski segera disusul dengan tawa yang pecah diantara kami, karena aku menjawab bahwa sepanjang jalan tadi aku hanya bisa komat-kamit berdoa dan bersyukur akhirnya tubuhku masih utuh hingga saat itu.
uugh, memori itu sekelebat muncul bagaikan potongan adegan film Titanic yang paling diingat banyak orang saat Leonardo mengangkat kedua tangan Kate diujung kapal sambil bertanya, “do you trust me?”, dan lugas Kate menjawab, “I trust you”. aku masih duduk dengan manisnya di angkot riung-dago, namun dalam hatiku sedari tadi berkomat-kamit membaca “Laa khaula walaa quwwata illaa billaah”. apalagi mantra yang bisa aku minta supaya menang perang melawan serangan recall memori itu selain memohon kebaikan Tuhan untuk segera mematikan mesin proyektor pemutar adegan film tertentu di otakku itu.
entah manjur sepenuhnya, entah tidak. yang jelas, hatiku mulai merasa tenang dan tak lagi berkecamuk merasakan sedih hati saat selanjutnya melewati berbagai tempat yang menyimpan berbagai peristiwa yang mengandung kata kunci dengan nama anak muda itu. aku mulai bisa berbicara pada diriku sendiri, “so what?”, saat angkotku melewati hotel di daerah dipati ukur-dimana kami pernah berkeliling di malam aku mencari penginapan murah dan layak, lalu gerbang kampus unpad-saat ia pertama kali menjemputku di bandung, lalu persimpangan kecil di dipati ukur yang menjadi jalan masuk menuju kosnya dan laboratorium kebanggaannya, dan ditutup dengan restoran McD di simpang dago-tempat ia sering menghabiskan waktu untuk sekedar membeli float sambil membaca buku dan kami pun pernah kesana. hmm, syukurlah siksaan itu segera berakhir. setidaknya aku tidak harus kebingungan mencari mantra apalagi untuk mematikan mesin pemanggil ingatan di dalam otakku.
mungkin para pembaca berpikir bahwa saat ini aku sedang dalam kondisi yang begitu parah dan menyedihkan sampai-sampai harus berjuang melawan mekanisme otakku sendiri. sebenarnya tidak juga, anggap saja cerita mesin pemanggil ingatanku itu memang muncul dari imajinasiku yang lebay atas apa yang sedang menimpaku saat ini. tapi percayalah, sesakit apapun tubuhku saat ini, I feel much better than you thought, guys, cause what happened to me now is only a phase of detoxification process for the sake of may own good. dan aku sangat bersyukur aku telah banyak terbantu oleh mantra andalanku tadi, “Laa khaula walaa quwwata illaa billaah”, sehingga malam rabu aku sudah mulai bisa tidur nyenyak, meski harus kututup malam itu dengan insiden diare yang akhirnya membuatku terjaga karena aku harus membuat oralit dan minum obat diare saat pukul tiga pagi.
yup, bagaimanapun inilah hidup, dimana tangis dan tawa benar-benar menyatu seperti dua sisi mata uang yang bisa berbalik kapan saja. dan sepertinya aku mulai bosan menulis posting yang justru akan menambah gencarnya serangan mesin pemanggil ingatanku. mungkin inilah proses alamiah dimana aku mulai bisa membiasakan diri menyebut hidupku tanpa terkait lagi dengan hidup anak muda itu. and I’m so thankful for that, Lord.
the bdg project 2.2-tiga desember duaribudelapan-
senin pertama
senin pertama-
akhirnya aku terbangun juga, setelah kemarin menghabiskan berlembar-lembar kertas tisyu dan puluhan ribu pulsa saat menelpon bantari hingga dua setengah jam dan mengeluarkan segala beban hati yang mulai membuatku menjadi manusia sakit dan penuh frustrasi.
yup, aku terbangun pagi ini masih dengan mata sembab dan bengkakku, rambut yang acak-acakan, dan tubuh yang ternyata tak mampu untuk digerakkan meski hanya untuk sekedar mandi. aku menguatkan tubuhku untuk mampu mengambil air wudhu dan sholat subuh. sambil merintih sendiri kuputuskan untuk mengambil balsam dan mengulas tubuhku dengan sebuah koin pecahan limaratus rupiah. semua guratan koin ditubuhku berwarna merah tua, seperti warna darah dari tanganku saat pengambilan sampel golongan darah semasa SMA dahulu. aku menyadari aku jatuh sakit hari ini. selesai kerokan, tubuhku mulai kedinginan dan menggigil.
aku makin merasa tenggelam dalam kesedihanku, kesakitan, dan sendirian di kamar kos ini. ingin kupersalahkan anak muda itu, yang di hari sabtu lalu tak berkehendak mengantarku pulang sampai kediaman pamanku, yang akhirnya membuatku berkelana berganti angkot hingga empat kali dan merasakan dinginnya angin malam kota bandung saat aku dibonceng tukang ojek yang menutup kesakitan hatiku hari itu. mencari kambing hitam tak berguna, lebih baik mencari biri-biri-setidaknya begitu kata iyam-yang memang logikaku juga ikut mengiyakan ucapannya. aku putuskan untuk menidurkan tubuh dan jiwaku yang kelelahan, sembari sayup-sayup kuputar berulang-ulang lagu-lagu dari album rectoverso milik dee dari ponselku. aku menyadari kekacauan diriku hari ini, tapi entah mengapa sebagian diriku membiarkan aku menikmati tahap detoksifikasi ini.
dalam lelapku, aku justru mulai menikmati sakitku, yang mungkin tak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang akan timbul bertahun-tahun ke depan jika aku tak segera memutuskan langkah besar yang kuambil kemarin: mulai pergi menjauh dari hidup anak muda itu.
tak ada yang bisa dipersalahkan, selain kebodohan diriku yang selama dua tahun ini gagal memahami perbedaan permasalahan hati dengan segala permasalahan yang berkaitan dengan target keduniawian. aku terus memupuk kecemasanku akan menjadi perawan seumur hidupku-ataukah menikah dengan orang yang akan menyakiti hidupku dan anak-anakku kelak selama beberapa tahun ini. dan ketika dua tahun lalu aku bertemu dengannya, seketika itu juga timbul euforia dalam segenap jiwaku-seolah aku telah bertemu dengan orang yang akan menyelamatkan hidupku dan anak-anakku kelak-saat melihat segala kesantunan dan kesalehan pribadinya. aku menjadikannya seolah daging santapan yang siap diburu-dan menjadikan diriku seperti kucing tom yang berlari-lari kesetanan mengejar daging yang dibawa oleh jerry.
nyatanya aku memang gagal mengartikan dua tahun ini sebagai suatu usaha menautkan dua hati, yang tak bisa dipasangkan target mingguan atau bulanan didalamnya. nyatanya itu adalah proyeksi dari ketidakpercayadirianku atas harga diriku di mata Allah. dan jika dirunut lagi, sejatinya itu merupakan bentuk kekosongan dan kehampaan relung jiwaku yang terdalam atas tiadanya makanan batin yang membuatku merasa hidup. yup, aku semakin paham diagnosa apa yang tepat untuk menjelaskan keadaan diriku belakangan ini: aku butuh kasih sayang Tuhanku, aku butuh mencari hakikat hidupku, aku butuh menemukan jalan untuk kebahagiaan hidupku, aku butuh mencintai Tuhanku agar aku pun bisa mencintai dunia yang aku berada didalamnya saat ini.
kemarin adalah hari yang sungguh-sungguh tepat untuk mengambil langkah besar dalam hidupku: pergi menjauhi hidupnya, mulai memaafkan diriku atas kebodohanku menghabiskan energi untuk dua tahun yang sia-sia mengejar cinta semunya, dan memberanikan diri memulai suatu perjalanan yang mungkin akan sangat panjang untuk mencari kebahagiaan hidupku: menggapai cinta Allah kepadaku.
dan sebuah buku Elizabeth Gilbert masih setia menemani di sisi kasurku-seolah sabtu lalu aku telah ditakdirkan untuk membelinya. disitu aku mulai memahami kekacauan besar dalam diriku atas pemahamanku mengenai konsep kebahagiaan hidup. Aku mengartikan kebahagiaan melalui cara mengikuti arus-utama pola hidup orang di muka bumi ini kebanyakan: bersekolah hingga pintar-mendapatkan pekerjaan dan gaji besar-mencari pasangan yang rupawan dan menjamin kelangsungan hidup-punya anak dan karir yang cemerlang-dan mati secara terhormat. pun mau tidak mau aku terjebak dalam arus-utama itu. hingga aku terlupa akan hakikat hidup ini: mencari cinta Allah dengan membahagiakan diri sendiri dan orang lain.
maka semua yang sedang terjadi pada hidupku saat ini kukembalikan pada satu pertanyaan: apa aku bahagia menjalani itu semua? aku menyadari seperti apa bentuk diriku yang telah dianugerahkan Allah kepadaku: mudah bosan, menyukai tantangan baru, spontan, tak bisa diatur apalagi dikekang, namun kadang bernyali kecil. atas dasar itu aku lalu mulai menimbang segala yang sedang kulakukan saat ini untuk terus kupertahankan atau suatu saat kulepaskan.
saat aku terbangun di siang hari tiba-tiba muncul hasratku untuk kembali memperjuangkan hal-hal yang dari dahulu sangat ingin kulakukan-meski tanpa alasan logis-yang kurasa akan sangat membahagiakan diriku. kembali menulis puisi dan lagu, mencari pemain gitar atau piano yang bisa menotasikan lagu-laguku, mengaji pada seorang guru, mencari uang dengan menjadi pengisi suara iklan atau bahkan penyiar, dan terakhir adalah menjadi penulis. aku membayangkan betapa indahnya jika suatu hari semua mimpi itu bisa terwujud. aku membayangkan diriku akan memiliki tingkat kewarasan yang jauh diatas kondisi kewarasanku saat ini. aku akan sangat bahagia dengan hidupku, meski sesulit apapun sebenarnya hidup yang kujalani saat itu. semuanya sebenarnya sangat logis: jika segenap hatiku bahagia menjalani hidupku, bukankah aku juga akan menularkan kebahagiaan itu kepada segenap manusia dan alam disekelilingku? termasuk juga kepada suami dan anak-anakku kelak?
semua berawal dari mimpi yang terus menetap di segala area otakku selama beberapa tahun ini: memiliki sebuah rumah kecil di dataran tinggi sleman, dengan halaman belakang yang bisa kutanami sayur-sayuran, dan sebuah musola kecil diatas kolam lele. sebuah rumah tempat aku dan suamiku akan membesarkan anak-anakku dan membekali mereka dengan sebuah honest legacy-istilah yang aku pilih untuk membina mereka menjadi manusia yang jujur terhadap kehidupan yang telah Tuhan sediakan pada mereka, bukan dengan warisan yang lain, itu saja mimpiku.
dan seperti andrea hirata sintesakan, aku percaya bahwa mimpi adalah benar-benar sebuah kunci untuk kita menaklukkan dunia, dan aku masih akan terus mencoba berlari tanpa lelah hingga aku meraihnya-dan berjuang untuk memeliharanya. dan aku percaya semua dapat kuwujudkan dengan kasih sayang Tuhan, berupa ujian demi ujian, yang sejatinya hanya sebuah pertanyaan dari Tuhan untuk meyakinkan dan merekognisi apa yang sebenarnya aku cari dalam hidupku. yup, Tuhan justru ingin membantuku mengkristalisasikan tujuan hidupku lewat kesulitan yang nantinya pasti akan bertubi-tubi menghadangku. dan aku percaya bahwa Allah Maha Baik dan Maha Demokratis, Ia menghormati dan menghargai setiap keputusan hidup umatnya, selagi keputusan itu akan membawa kebaikan bagi insan dan alam semesta di muka bumi ini.
maka, yang aku perlu lakukan semenjak hari ini hanyalah tiada putus beristikhoroh, mencari jawaban atas jalan mana yang baiknya kutempuh, membuka seluasnya cakrawala pengetahuanku agar mampu membawa kebaikan lebih luas bagi alam semesta ini, menikmati setiap suka dan derita sebagai dua sisi mata uang kebahagiaan, dan berani mengambil peran sebagai manusia dewasa untuk mempertanggungjawabkan setiap dampak dari keputusan hidup yang aku ambil.
siang ini langit Jatinangor menampakkan kilaunya, begitu cerah, tak seperti minggu lalu yang selalu kelabu. semoga ini menjadi pertanda alam ikut menyaksikan kebahagiaanku atas keberanianku mengambil keputusan besar kemarin. dan tiada berlebihan jika kemarin tulisan di blogku kuberi judul: beruntungnya ku pergi hari ini.
aku mulai beranjak dari kasur dinginku, mengambil air wudhu, melihat wajahku di cermin, masih kusut memang, tetapi setidaknya aku mulai berani untuk tersenyum lagi, dan seolah demam yang mengiringi tubuhku perlahan sirna. luar biasa, subhanallah, padahal perut ini baru terisi seonggok roti coklat dan beberapa teguk teh hangat-yang akhirnya tak jadi kuhabiskan karena didatangi banyak semut. siang ini aku hanya ingin membersihkan sekujur tubuhku. Mungkin juga isi otakku.
-to be continued-
the bdg project 2.1-satu desember duaribudelapan-
perjalanan terakhir
<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>
De, hari ini aku pulang ke jogja, masih dengan membawa segala kegundahan dan remuk redamnya hati. Memandang lautan sawah di sisi kanan jendela keretaku, aku menjadi sadar bahwa jalanku masih teramat panjang, hutangku pada bangsa ini juga masih menanti untuk dibayar. Dan denyut nadi kehidupan di sekeliling rel kereta api ini seakan meneguhkan takdir hidupku untuk tak bisa berdiam diri melihat kondisi bangsaku sendiri. Akankah perjuanganku untuk berbuat sesuatu bagi bangsa ini mampu menjadi roda yang kan menggilas waktu dan membuatku perlahan melupakanmu?
Sesaat setan di telingaku berbisik, masihkah ada celah bagiku di hatimu, namun rasionalitasku seakan membanting semua bisikan itu dan memaksaku menatap cermin realita bahwa engkau sesungguh-sungguhnya memang tidak pernah menginginkanku menemanimu di sisimu. Hmm, remuk dan hancur lebur memang. Tetapi, apa ada pilihan lain selain merelakanmu pergi? Nyatanya akupun tak bisa menyetir nasibku sendiri untuk lantas bisa mengejarmu menimba ilmu di negeri orang. Lagi-lagi Tuhan menamparku, membangunkanku dari tidur panjangku, dan memaksaku untuk mengambil satu-satunya pilihan: mengikhlaskan semua berlalu (semua = seluruh memori dan rekognisi di otakku yang mengandung kata kunci namamu, seluruhnya yang berkaitan dengan dirimu-bahkan hingga wangi khas tubuhmu), dan aku kini bersyukur karena itu.
De, mungkin Allah punya rencana besar untuk kita. Mungkin kita memang takkan pernah berjodoh-dalam arti yang sesungguhnya, namun kita tak kan pernah tahu hikmah di balik ini semua. Mungkin kita suatu hari dipertemukan kembali untuk bersama-sama berbuat sesuatu untuk bangsa ini. Yap, who knows, no body knows.
-to be continued-
the bdg project 1.2
di pinggir hamparan sawah sepanjang rel kereta
beruntungnya ku pergi hari ini
sejatinya ku memang hanya manusia biasa
tiada daya upaya tuk bisa membuatmu memalingkan muka,
apalagi mengajakmu bersama mengarungi lautan dunia
pun meski begitu aku tetap bersyukur
pernah menikmati
sepasang bola mata coklatmu yang begitu indahnya
ijinkan aku mundur perlahan dari hidupmu
mulai membenahi kepingan diriku
yang sudah hancur atas ketamakan duniawiku
mulai memulihkan harga diriku
yang jatuh atas frustrasi karena takut tak bertemu lagi dengan orang sebaik dirimu
aku betul-betul hanya manusia biasa
yang kemarin sejenak berusaha
mencarikan ayah yang patut diteladani untuk anak-anakku
maafkan jika aku gagal mempelajari bahwa permasalahan hati
tak bisa disamakan dengan proposal sekolah di luar negeri
yang bisa ditargetkan dengan kalender hari
maka ku pun berucap syukur
beruntungnya ku pergi hari ini
saat Allah masih belum memberikan penalti
untuk rasa sakit yang ku buat sendiri
saat aku menyadari begitu banyak pelajaran yang tlah kau beri
saat kita belum sempat dijauhkan oleh rasa benci
sungguh aku beruntung bisa segera pergi hari ini
dan menyadari aku masih punya kesempatan membenahi
kacau balaunya pegangan hati
membenahi
hakekat hidup yang selama ini kucari
maka sekali lagi
ijinkan aku pergi hari ini
semoga esok nanti
hidupku kan lebih berarti
but before i go
promise me, that you’re not gonna let me down on one thing
i put my trust on you, de
to someday make some betterments on our nation
as it has been written down on your fate
and it has been seen on both of your beautiful brown eyes
i’m glad enough
though its only to be a short-episode figurant
on your whole life journey
cause its one of the most priceless blesses
from Allah My Almighty
Assalamualaikum, de
selamat berjuang, semoga Allah slalu menyertai langkahmu
-from bandung with last tears i had-
maaf untuk pejuang
memilihmu perlu persiapan dan mental
bagai memilih masuk ke sekolah unggulan
memilihmu bisa makan waktu yang panjang
satpam depan suruh aku ambil nomor tunggu
aku tak pernah jadi pilihan hatimu
mungkin aku sebaiknya bangun dari tidurku
dan bawa pergi mimpiku berlalu
entah kapan aku bisa mempresentasikan maksud hatiku sejelas mungkin.bahwasanya aku tak berniat mencari kesenangan masa muda bersamanya.
bahwasanya aku tak membayangkan menghabiskan masa lansiaku tanpa candanya, hingga suatu hari aku terbangun dan mulai kebosanan melihat orang yang sama tertidur di sisiku.
bahwasanya aku ingin mencari lawan bertengkar sebanding hanya untuk meributkan hal-hal kecil yang justru membuatku makin tak bisa berhenti mencintai lawanku itu.
bahwasanya aku mampu berusaha menjadi bagian dari tim suksesnya untuk mewujudkan mimpi besarnya membangun sebuah laboratorium sendiri.
bahwasanya aku menikmati berpeluh bercucuran keringat tiap kali aku memandikan, menyiapkan sarapan, dan mengantarkan anak-anaknya bersekolah setiap pagi.
bahwasanya aku menikmati setiap kritikan darinya mengenai ribuan sifat burukku.
bahwasanya aku sungguh-sungguh telah berusaha berpaling darinya, namun tak jua bisa.
we’re just ordinary people
we dont know which way to go
coz we’re ordinary people
maybe we should take it slow
Ya Allah, aku memang mahlukmu yang pantas dihinadina dengan segala tingkahlaku masa laluku.
akupun sebenarnya telah berpikir ribuan kali untuk mempertanyakan keberanianku memilih dirinya.
sungguh aku sudah membeli cermin paling besar dan jernih untuk memaksaku bercermin dan menyadari betapa aku sebenarnya tak pantas untuk menjadi manajer tim suksesnya.
namun betapa naif dan sombongnya aku saat aku menanyakan sedikit celah kepantasan itu padaMu ya Allah, hanya dengan mengandalkan modal semangatku untuk memperbaiki diri.
itu saja yang aku punya ya Allah.
jadi biarpun apapun yang sedang terjadi sekarang,berapapun wanita yang sedang ada di hatinya,aku hanya bisa mengandalkan janji Tuhan, saat segalanya telah digariskan sebelum insan itu lahir, tiada mahluk Tuhan yang mampu mengubahnya.
and I think we can make it to a promise land
we’ll be happy end
we live together til the end
maaf pejuangku
kutinggal pesan untukmu
ku tak punya banyak waktu
mungkin di lain waktu
kau ada waktu tuk dengar aku
sekarang waktunya ku pergi
mungkin di negri orang kita kan bersua lagi
kuhanya mengikuti kemana Tuhan kan membawaku pergi
Pejuangku, sampai jumpa lagi
mari kita berjuang demi semua mimpi
namun jangan paksa aku untuk menyerah sampai disini
-the bdg project 1.1-
(credit to: adhitia sofyan-memilihmu, john legend-ordinary people, ran-d’inspiration)
pejuang hidup
ada kalanya kita ingin sekali Tuhan mengabulkan semua doa kita
meski kita tahu itu tak mungkin
namun ada kalanya juga saat kita terus tanpa lelah mengucap doa itu di setiap tarikan nafas kita
karena kita percaya jika doa itu terkabul
itu akan membawa kebaikan bagi semua
namun tanpa sadar kita akan menjadi manusia yang penuh kesombongan
saat doa itu terkabul
karena kita menjadi semakin percaya akan keyakinan kita mengenai kebaikan suatu hal
padahal kebaikan menurut kita belum tentu kebaikan menurut Tuhan
aku sadar saat ini aku sedang mati suri
terusmenerus diterjang berbagai hempasan hidup
dilema akan tanggungjawab kehidupan yang harus kupikul sendiri
dilema akan tanggungjawab memberi sedikit kebaikan bagi bangsa
juga menanggung rasa sakit yang luar biasa saat mengetahui harus terjatuh (lagi), kehilangan (lagi), dan dihempaskan (lagi) dari kehidupan seseorang
namun aku adalah seorang pejuang hidup
akupun juga harus bangkit (lagi), dan bangun (lagi) dari mati suriku
masih terlalu banyak hutang yang harus kubayar pada bangsa ini
masih terlalu banyak daerah terpencil yang belum kukunjungi
masih terlalu banyak anak bangsa yang tak bisa sekolah
masih terlalu banyak anak bangsa yang belum menemukan alasan kenapa mereka harus mencintai negara ini dengan segenap hati mereka
masih terlalu besar jurang ketimpangan dan ketidakadilan di negriku yang justru makin besar atas ulah saudara sebangsa mereka
masih amat jauh belum tercapai mimpiku untuk sekedar membuat segelintir anak bangsa ini mengecap indahnya pendidikan seperti yang pernah aku rasakan
dan aku masih punya ribuan alasan yang akan membuat waktu berlalu terlalu cepat
hingga tak terasa luka ini pasti akan mengering
pasti
insyaAllah
“pejuang hidup sudah selayaknya mati suri berkali-kali,tapi ia akan bangun lagi untuk terus memperjuangkan apa yg ia percaya baik untuk semua…“
dan aku tak akan lelah untuk terus mengucap doa
mengerahkan sekuat tenaga
memperjuangkan setiap kebaikan yang masih bisa aku perjuangkan
di atas segala kelemahan insaniku
benarkah ada dua kunci kehidupan?
Minggu ini jogja lagi sering hujan rintik-rintik, bahkan disertai badai dan angin..
Entah apa karena itu juga menandakan bahwa banyak orang yang sedang terkena badai..
Ada suami istri yang sedang berjuang mempertahankan keharmonisan rumah tangga di tengah perkawinan mereka yang hampir berusia perak. Permasalahannya sebenarnya mungkin sederhana. Si istri sedang dalam masa pra menopause dan membutuhkan ekstra perhatian dari keluarganya, terutama sang suami. Sang istri merasa ia telah memberikan banyak pengertian akan kesenangan suaminya. Ya, sang suami memang punya hobi memelihara burung yang dimata istrinya semuanya berbunyi sama: cicicuit. Juga hobi memancing yang selalu dipahami dan didukung istri dengan menemani suami pergi kemanapun ia ingin memancing, bahkan hingga ke pinggir sungai di malam hari. Sementara sang istri berpikir ia meminta imbal balik yang sederhana pula. Saat sang suami dibutuhkan untuk membereskan masalah-masalah rumah seperti membetulkan ledeng yang rusak, mencarikan pengasah pisau yang hilang, atau sekedar memindahkan pot bunga superbesar milik sang istri. Dan satu lagi, sang istri minta ditemani untuk pergi ke bioskop dan melihat film romantis macam Love atau Ayat-ayat cinta, untuk sekedar mengulang lagi romantisme masa muda mereka. Bisa ditebak, sang suami terlalu sibuk dengan beban lembur kerja tiada habisnya.
Ada pula seorang anak yang sedang berjuang keras merawat ibunya yang lanjut usia dan mulai bertingkah seperti anak kecil lagi. Dengan alasan bosan berada di rumah, sang ibu meminta ditemani pergi anaknya berjalan-jalan di mal, sementara anaknya tidak lain sebenarnya hanya mengkhawatirkan masalah kaki ibunya yang terkena osteoporosis dan tak mungkin mampu berjalan lebih dari sepuluh meter tanpa berhenti. Belum lagi permintaan sang ibu untuk membeli makanan di mal yang jelas-jelas memiliki kandungan kelosterol dan kalori yang tiada hingga, sehingga makin lengkaplah kepusingan si anak.
Ada lagi cerita dari pasangan yang hendak menikah. Sang wanita tiba-tiba seperti hendak mengurungkan niatnya, karena ia seperti baru saja melihat siapa diri sang lelaki sebenarnya. Ya, wanita itu dibuat marah dan sedih karena sang lelaki tak pernah mau sekedar mengangkat telponnya atau membalas pesan pendeknya, kecuali di akhir minggu. Alasan sang lelaki lagi-lagi klise, karena pekerjaan dan karena ia sebelumnya selalu mampu memenuhi segala kebutuhan finansial sang calon istri. sebenarnya kecemasan wanita itu cukup wajar. Bagaimana apabila tindak tanduk seperti itu terus berlangsung selama perkawinan mereka yang tiada akan pernah didasari pada landasan komunikasi aktif dua arah. Apa jadinya apabila tiba-tiba anak mereka masuk rumah sakit dan sang suami asyik dengan pekerjaannya tanpa ingin diganggu.
Ada pula pasangan lain yang baru menikah berbilang tahun. Ya, di tahun kedua pernikahan mereka, sang suami dibikin pusing karena sang istri memilih untuk menerima pekerjaan sebagai pegawai di sebuah bank swasta. Memang tidak ada yang salah dengan itu, yang salah adalah karena sebelum mereka menikah, sang istri telah berkomitmen untuk tidak bekerja hingga anak mereka memasuki usia sekolah. Namun ternyata rayuan gaji besar dan jenjang karir yang menjanjikan telah menggoyahkan segalanya. Sang suami yang seorang wiraswastawan dan sedang meniti usaha bengkelnya jelas-jelas kalah pamor dari istrinya yang di bulan ke-enam pekerjaannya telah mendapat jatah mobil dinas, meski tidak mewah. Sementara sang suami tiap hari bergelut dengan kilauan oli dan wangi asap motor. Dan pertengkaran kecil pun mulai bergulir dari hari ke hari bak melodrama kejar tayang tiada hentinya.
Hmm, semua pemandangan itu seakan menyiratkan dua pesan kehidupan yang (kebetulan) dijadikan tag line dari film yang sedang booming habis-habisan saat ini, AAC. Eh tapi sebenernya dulu pak haji dedy mizwar udah sempet ngomongin ini dalam salah satu sinetronnya pas dia mau punya calon mantu si andre stinky itu. Hayo, kira-kira ada yang bisa tebak nggak ya apa kunci kehidupan yang dimaksud? Dua hal yang amat mudah untuk ditebak dan diucapkan namun alangkah luar biasa membutuhkan perjuangan untuk menjalaninya (aku nggak berani bilang sulit, ntar pamali). Ya kita tunggu apakah ada yang bisa menebaknya (pasti semua bisa lah met, semua kan dah nonton AAC..).
ya semoga.. episode selanjutnya segera datang ke layar kaca anda.. halah!
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!