rectoverso yang menemaniku

Desember 17, 2008 at 2:41 am (Uncategorized)

sesaat lalu yang terjadi masih seperti ini…

Hanya Isyarat

oleh: Dewi Lestari

“… Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.”

Ku coba semua, segala cara
Kau membelakangiku
Ku nikmati bayangmu
Itulah saja cara yang bisa
Untuk kumenghayatimu
Untuk mencintaimu

Sesaat dunia jadi tiada
Hanya diriku yang mengamatimu
Dan dirimu yang jauh di sana
Ku tak kan bisa lindungi hati
Jangan pernah kau tatapkan wajahmu
Bantulah aku semampumu

(Rasakanlah)
Isyarat yang sanggup kau rasa
Tanpa perlu kau sentuh
(Rasakanlah) Harapan, impian,
Yang hidup hanya untuk sekejap
(Rasakanlah) Langit, hujan,
Detak, hangat nafasku

(Rasakanlah)
Isyarat yang mampu kau tangkap
Tanpa perlu kuucap,
(Rasakanlah) Air, udara,
Bulan, bintang
Angin, malam,
Ruang, waktu, puisi

Itulah saja cara yang bisa
Untuk menghayatimu
Untuk mencintaimu

di masa-masa sulitku mungkin seperti ini…

Curhat Buat Sahabat

oleh: Dewi Lestari

“…Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.”

Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:

Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku disini…

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : “Pandang aku, kau tak sendiri,
oh dewiku…”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan

Sahabatku, bukan maksud hati membebani,
Tetapi…

Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji…

Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku…”

Wahai tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

a detox

Desember 5, 2008 at 3:45 am (Uncategorized)

-selasa pertama-
alarm ponselku memaksaku bangun hanya untuk solat. meriang masih terasa enggan beranjak dari tubuh lemasku. aku pun tak kuasa untuk bangun pagi meski sadar hari ini harus turun ke bawah karena ada janji dengan salah satu dosen paling baik yang pernah kutemui selama satu bulan disini.

orang itu biasa kupanggil bang leo, lengkapnya leonardo dicaprio (just kiddin’). tampannya beda tipislah dengan leonardo yang artis amrik itu, hanya tinggal dibayangkan bila si leonardo aslinya itu berusia lebih tua tiga puluh tahun dari sekarang. well, nama aslinya adalah leonard f.polhaupessy. jika aku tak ingat  akan kebaikannya kepada kami kami ini-yang konon katanya dosen karbitan-mungkin aku benar-benar enggan menguatkan tubuhku untuk menempuh dua jam perjalanan dari jatinangor ke dago atas.

dan tiba-tiba aku sudah duduk dengan tidak tenangnya di bis damri, karena teman sekamarku tadi pagi melarangku mandi memakai air jatinangor secara normal-yang berarti mandi dengan menggebyur tubuh menggunakan air sedingin air kulkas-karena ia takut aku masih belum sembuh benar dari demamku kemarin. walhasil aku mandi menggunakan tisu basah, yang ditutup dengan acara mengusapkan banyak sekali baby cologne ke sekujur tubuhku, karena saking takutnya bang leonardo dicaprio akan terganggu dengan acara mandi tidak normalku.
perjalanan melawan sistem recall memoriku pun dimulai. pemanggil ingatanku mulai bekerja saat damri mulai berangkat di pertigaan dunkin jatos, dimana berapa hari yang lalu aku masih sempat tertawa riang saat menemaninya berkeliling jatos yang hanya akan habis dikelilingi dalam waktu kurang dari satu jam, lalu paginya masih sempat menikmati sarapan sepiring lontong kare hingga melepasnya berlari pergi mengejar damri. aku pun berusaha memejamkan mata-siapa tahu ampuh untuk mengusir datangnya panggilan ingatan itu.

aku lalu terbangun saat bis damriku melewati persimpangan masjid dekat musium geologi, dimana kami lalu turun untuk berencana menyempatkan pergi ke pasar baru terlebih dahulu. celakanya, perhitungan kami meleset, di dalam angkot kami menyadari kami tak punya waktu lagi ke pasar baru meski untuk sekedar membeli toples ibu kos yang kupecahkan minggu lalu. akhirnya kami banting setir, turun dan berganti angkot riung-dago. dan perjuanganku melawan recall memori semakin terasa berat disini. angkot itu ternyata melewati kantor pos, yang saat di hari minggu di bulan lalu aku diajaknya serta kesana, meski ternyata tutup waktu itu. angkot ini ternyata juga melewati persimpangan di bawah jembatan layang, tempat dimana ia pernah menunjukkanku bahwa saat malam minggu tiba akan banyak mahasiswa unpad maupun itb mendadak mengamen secara massal, dan nyatanya memang demikian saat bulan lalu kami masih sempat melintasi persimpangan itu di malam minggu.

angkotpun lalu bergerak ke arah dipati ukur, berbelok ke kiri bersamaan dengan arah dari penghabisan jembatan layang. yup, masih lekat di ingatanku, sore itu dingin mencekat, ia sepertinya salah mengambil arah saat ingin keluar dari kemacetan di persimpangan bawah jembatan layang itu. jadilah kami harus melintasi jembatan layang yang dingin dan panjang itu mulai dari arah pasteur. entah mengapa, sore itu ia membawa laju motornya begitu menderu, hingga aku yang diboncengnya hanya berani memejamkan mata dan komat-kamit membaca doa minta keselamatan-selain karena aku sungguh sungguh kedinginan terkena tiupan angin sore bandung yang begitu kencang. begitu jalur jembatan layang itu habis, barulah kecepatan motornya berkurang banyak. dan saat ia hendak berbelok kiri ke arah dipati ukur, barulah ia bertanya, “halo? ada orang di belakang? masih hidup? kok dari tadi nggak ada suaranya?” ijinkan aku berkomentar bahwa saat itu suaranya benar-benar terasa begitu merdu dan lembut, meski segera disusul dengan tawa yang pecah diantara kami, karena aku menjawab bahwa sepanjang jalan tadi aku hanya bisa komat-kamit berdoa dan bersyukur akhirnya tubuhku masih utuh hingga saat itu.

uugh,  memori itu sekelebat muncul bagaikan potongan adegan film Titanic yang paling diingat banyak orang saat Leonardo mengangkat kedua tangan Kate diujung kapal sambil bertanya, “do you trust me?”, dan lugas Kate menjawab, “I trust you”. aku masih duduk dengan manisnya di angkot riung-dago, namun dalam hatiku sedari tadi berkomat-kamit membaca “Laa khaula walaa quwwata illaa billaah”. apalagi mantra yang bisa aku minta supaya menang perang melawan serangan recall memori itu selain memohon kebaikan Tuhan untuk segera mematikan mesin proyektor pemutar adegan film tertentu di otakku itu.

entah manjur sepenuhnya, entah tidak. yang jelas, hatiku mulai merasa tenang dan tak lagi berkecamuk merasakan sedih hati saat selanjutnya melewati berbagai tempat yang menyimpan berbagai peristiwa yang mengandung kata kunci dengan nama anak muda itu. aku mulai bisa berbicara pada diriku sendiri, “so what?”, saat angkotku melewati hotel di daerah dipati ukur-dimana kami pernah berkeliling di malam aku mencari penginapan murah dan layak, lalu gerbang kampus unpad-saat ia pertama kali menjemputku di bandung, lalu persimpangan kecil di dipati ukur yang menjadi jalan masuk menuju kosnya dan laboratorium kebanggaannya, dan ditutup dengan restoran McD di simpang dago-tempat ia sering menghabiskan waktu untuk sekedar membeli float sambil membaca buku dan kami pun pernah kesana. hmm, syukurlah siksaan itu segera berakhir. setidaknya aku tidak harus kebingungan mencari mantra apalagi untuk mematikan mesin pemanggil ingatan di dalam otakku.

mungkin para pembaca berpikir bahwa saat ini aku sedang dalam kondisi yang begitu parah dan menyedihkan sampai-sampai harus berjuang melawan mekanisme otakku sendiri. sebenarnya tidak juga, anggap saja cerita mesin pemanggil ingatanku itu memang muncul dari imajinasiku yang lebay atas apa yang sedang menimpaku saat ini. tapi percayalah, sesakit apapun tubuhku saat ini, I feel much better than you thought, guys, cause what happened to me now is only a phase of detoxification process for the sake of may own good. dan aku sangat bersyukur aku telah banyak terbantu oleh mantra andalanku tadi, “Laa khaula walaa quwwata illaa billaah”, sehingga malam rabu aku sudah mulai bisa tidur nyenyak, meski harus kututup malam itu dengan insiden diare yang akhirnya membuatku terjaga karena aku harus membuat oralit dan minum obat diare saat pukul tiga pagi.

yup, bagaimanapun inilah hidup, dimana tangis dan tawa benar-benar menyatu seperti dua sisi mata uang yang bisa berbalik kapan saja. dan sepertinya aku mulai bosan menulis posting yang justru akan menambah gencarnya serangan mesin pemanggil ingatanku. mungkin inilah proses alamiah dimana aku mulai bisa membiasakan diri menyebut hidupku tanpa terkait lagi dengan hidup anak muda itu. and I’m so thankful for that, Lord.
the bdg project 2.2-tiga desember duaribudelapan-

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

benarkah ada dua kunci kehidupan?

Maret 17, 2008 at 5:17 am (Uncategorized)

Minggu ini jogja lagi sering hujan rintik-rintik, bahkan disertai badai dan angin..
Entah apa karena itu juga menandakan bahwa banyak orang yang sedang terkena badai..
Ada suami istri yang sedang berjuang mempertahankan keharmonisan rumah tangga di tengah perkawinan mereka yang hampir berusia perak. Permasalahannya sebenarnya mungkin sederhana. Si istri sedang dalam masa pra menopause dan membutuhkan ekstra perhatian dari keluarganya, terutama sang suami. Sang istri merasa ia telah memberikan banyak pengertian akan kesenangan suaminya. Ya, sang suami memang punya hobi memelihara burung yang dimata istrinya semuanya berbunyi sama: cicicuit. Juga hobi memancing yang selalu dipahami dan didukung istri dengan menemani suami pergi kemanapun ia ingin memancing, bahkan hingga ke pinggir sungai di malam hari. Sementara sang istri berpikir ia meminta imbal balik yang sederhana pula. Saat sang suami dibutuhkan untuk membereskan masalah-masalah rumah seperti membetulkan ledeng yang rusak, mencarikan pengasah pisau yang hilang, atau sekedar memindahkan pot bunga superbesar milik sang istri. Dan satu lagi, sang istri minta ditemani untuk pergi ke bioskop dan melihat film romantis macam Love atau Ayat-ayat cinta, untuk sekedar mengulang lagi romantisme masa muda mereka. Bisa ditebak, sang suami terlalu sibuk dengan beban lembur kerja tiada habisnya.
Ada pula seorang anak yang sedang berjuang keras merawat ibunya yang lanjut usia dan mulai bertingkah seperti anak kecil lagi. Dengan alasan bosan berada di rumah, sang ibu meminta ditemani pergi anaknya berjalan-jalan di mal, sementara anaknya tidak lain sebenarnya hanya mengkhawatirkan masalah kaki ibunya yang terkena osteoporosis dan tak mungkin mampu berjalan lebih dari sepuluh meter tanpa berhenti. Belum lagi permintaan sang ibu untuk membeli makanan di mal yang jelas-jelas memiliki kandungan kelosterol dan kalori yang tiada hingga, sehingga makin lengkaplah kepusingan si anak.
Ada lagi cerita dari pasangan yang hendak menikah. Sang wanita tiba-tiba seperti hendak mengurungkan niatnya, karena ia seperti baru saja melihat siapa diri sang lelaki sebenarnya. Ya, wanita itu dibuat marah dan sedih karena sang lelaki tak pernah mau sekedar mengangkat telponnya atau membalas pesan pendeknya, kecuali di akhir minggu. Alasan sang lelaki lagi-lagi klise, karena pekerjaan dan karena ia sebelumnya selalu mampu memenuhi segala kebutuhan finansial sang calon istri. sebenarnya kecemasan wanita itu cukup wajar. Bagaimana apabila tindak tanduk seperti itu terus berlangsung selama perkawinan mereka yang tiada akan pernah didasari pada landasan komunikasi aktif dua arah. Apa jadinya apabila tiba-tiba anak mereka masuk rumah sakit dan sang suami asyik dengan pekerjaannya tanpa ingin diganggu.
Ada pula pasangan lain yang baru menikah berbilang tahun. Ya, di tahun kedua pernikahan mereka, sang suami dibikin pusing karena sang istri memilih untuk menerima pekerjaan sebagai pegawai di sebuah bank swasta. Memang tidak ada yang salah dengan itu, yang salah adalah karena sebelum mereka menikah, sang istri telah berkomitmen untuk tidak bekerja hingga anak mereka memasuki usia sekolah. Namun ternyata rayuan gaji besar dan jenjang karir yang menjanjikan telah menggoyahkan segalanya. Sang suami yang seorang wiraswastawan dan sedang meniti usaha bengkelnya jelas-jelas kalah pamor dari istrinya yang di bulan ke-enam pekerjaannya telah mendapat jatah mobil dinas, meski tidak mewah. Sementara sang suami tiap hari bergelut dengan kilauan oli dan wangi asap motor. Dan pertengkaran kecil pun mulai bergulir dari hari ke hari bak melodrama kejar tayang tiada hentinya.

Hmm, semua pemandangan itu seakan menyiratkan dua pesan kehidupan yang (kebetulan) dijadikan tag line dari film yang sedang booming habis-habisan saat ini, AAC. Eh tapi sebenernya dulu pak haji dedy mizwar udah sempet ngomongin ini dalam salah satu sinetronnya pas dia mau punya calon mantu si andre stinky itu. Hayo, kira-kira ada yang bisa tebak nggak ya apa kunci kehidupan yang dimaksud? Dua hal yang amat mudah untuk ditebak dan diucapkan namun alangkah luar biasa membutuhkan perjuangan untuk menjalaninya (aku nggak berani bilang sulit, ntar pamali). Ya kita tunggu apakah ada yang bisa menebaknya (pasti semua bisa lah met, semua kan dah nonton AAC..).

ya semoga.. episode selanjutnya segera datang ke layar kaca anda.. halah!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Hello world!

Februari 28, 2008 at 7:13 am (Uncategorized)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.